Halo Sobat ! | Members area : Register | Sign in
About me | SiteMap | Arsip | Terms of Use | Dcma Disclaimer

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Total Tayangan Halaman

PEMERINTAHAM HERMAN W. DAENDELS



Sejak Belanda jatuh ke tangan Prancis pada tahun 1795, Belanda diubah namanya menjadi republik Bataaf dan diperintah oleh Louis Napoleon, adik kaisar Napoleon Bonaparte. Di samping itu, pemerintah Prancis mengkhawatirkan keadaan di Pulau Jawa sebagai daerah jajahan Belanda akan direbut oleh Inggris yang saat itu tidak berhasil dikuasai oleh Prancis. Oleh karena itu, pada tanggal 1 Januari 1808 Louis Napoleon mengutus Herman W. Daendels ke Pulau Jawa.Pada tanggal 15 Januari 1808 Daendels menerima kekuasaan dari Gubernur Jenderal Weise. Daendels dibebani tugas mempertahankan Pulau Jawa dari serangan Inggris, karena Inggis telah menguasai daerah kekuasaan VOC di Sumatra, Ambon, dan Banda.
Sebagai gubernur jenderal, langkah-langkah yang ditempuh Daendels, antara lain:
  1. Meningkatkan jumlah tentara dengan jalan mengambil dari berbagai suku bangsa di Indonesia.
  2. Membangun pabrik senjata di Semarang dan Surabaya.
  3. Membangun pangkalan armada di Anyer dan Ujung Kulon.
  4. Membangun jalan raya dari Anyer hingga Panarukan, sepanjang kurang lebih 1.100 km.
  5. Membangun benteng-benteng pertahanan.
Dalam rangka mewujudkan langkah-langkah tersebut
Daendels menerapkan sistem kerja paksa (rodi). Selain menerapkan kerja paksa Daendels melakukan berbagai usaha untuk mengumpulkan dana dalam menghadapi Inggris. Langkah tersebut antara lain:
  1. Mengadakan penyerahan hasil bumi (contingenten).
  2. Memaksa rakyat-rakyat menjual hasil buminya kepada pemerintah Belanda dengan harga murah (verplichte leverantie).
  3. Melaksanakan Preanger Stelsel, yaitu kewajiban yang dibebankan kepada rakyat Priangan untuk menanam kopi.
  4. Menjual tanah-tanah negara kepada pihak swasta asing seperti kepada Han Ti Ko seorang pengusaha Cina.
Daendels merupakan penguasa yang disiplin, tegas, dan kejam, sehingga dikenal sebagai gubernur jenderal yang bertangan besi. Ia juga dijuluki Tuan Besar Guntur atau Jenderal Mas Galak. Tindakan Daendels ini di mata orang Belanda sendiri ternyata sangat dibenci. Daendels juga menjual tanah milik negara kepada pengusaha swasta asing, berarti ia telah melanggar undang-undang negara. Hal tersebut mengakibatkan ia dipanggil pulang ke negerinya dan diganti Jenderal Jassens pada tahun 1811.

MASA PEMERINTAHAN VAN DEN BOSCH DI INDONESIA

van den boschPada masa kepemimpinan Johanes Van Den Bosch Belanda memperkenalkan culturstelsel atau caltivitaion system (tanam paksa). Sistem tanan paksa pertama kali diperkenalkan di Jawa dandikembangkan di daerah-daerah lain di luar Jawa. Tujuan Sistem Tanam Paksa adalah untuk mendapatkan keuntungan yang sebesarbesarnya. Tujuannya untuk mengisi kekosongan kas Belanda yang pada saat itu terkuras habis akibat perang
Aturan sistem tanam paksa
  1. Setiap penduduk wajib menyerahkan seperlima dari lahangarapannya untuk ditanami tanaman wajib yang berkualitas ekspor.
  2. Tanah yang disediakan untuk tanah wajib dibebaskan dari pembayaran pajak tanah.
  3. Hasil panen tanaman wajib harus diserahkan kepada pemerintah kolonial. Setiap kelebihan hasil panen dari jumlah pajak yang harus dibayarkan kembali kepada rakyat.
  4. Tenaga dan waktu yang diperlukan untuk menggarap tanaman wajib tidak boleh melebihi tenaga dan waktu yang diperlukan untuk menanam padi atau kurang lebih 3 bulan.
  5. Mereka yang tidak memiliki tanah, wajib bekerja selama 66 hari atau seperlima tahun di perkebunan pemerintah.
  6. Jika terjadi kerusakan atau kegagalan panen menjadi tanggung jawab pemerintah (jika bukan akibat kesalahan petani).
  7. Pelaksanaan tanam paksa diserahkan sepenuhnya kepada kepala desa.
Pelaksanaan tanam paksa
Dalam kenyataannya, pelaksanaan cultur stelsel banyak terjadi penyimpangan, karena berorientasi pada kepentingan imperialis, di antaranya:
  1. Jatah tanah untuk tanaman ekspor melebihi seperlima tanah garapan, apalagi tanahnya subur.
  2. Rakyat lebih banyak mencurahkan perhatian, tenaga, dan waktunya untuk tanaman ekspor, sehingga banyak tidak sempat mengerjakan sawah dan ladang sendiri.
  3. Rakyat tidak memiliki tanah harus bekerja melebihi 1/5 tahun
  4. Waktu pelaksanaan tanaman ternyata melebihi waktutanam padi (tiga bulan) sebab tanaman-tanaman perkebunan memerlukan perawatan yang terus-menerus.
  5. Setiap kelebihan hasil panen dari jumlah pajak yang harus dibayarkan kembali kepada rakyat ternyata tidak dikembalikan kepada rakyat.
  6. Kegagalan panen tanaman wajib menjadi tanggung jawab rakyat/petani.
Dampak tanam paksa
Bagi Belanda tanam paksa membawa keuntungan melimpah, di antaranya: (a) Kas Belanda menjadi surplus (berlebihan). Dan (b) Belanda bebas dari kesulitan keuangan.
Dampak tanam paksa bagi Indonesia
Akibat adanya penyimpangan-penyimpangan pelaksanaan tanam paksa, maka membawa akibat yang memberatkan rakyat Indonesia, yaitu:
  1. Banyak tanah yang terbengkalai, sehingga panen gagal.
  2. Rakyat makin menderita.
  3. Wabah penyakit merajalela.
  4. Bahaya kelaparan yang melanda Cirebon memaksa rakyat mengungsi ke daerah lain untuk menyelamatkan diri
  5. Kelaparan hebat di Grobogan, sehingga banyak yang mengalami kematian dan menyebabkan jumlah penduduk menurun tajam.
Penentangan tanam paksa
Tanam paksa yang diterapkan Belanda di Indonesia ternyata mengakibatkan aksi penentangan. Orang yang menentang tanam paksa terdiri dari:
1) Golongan pendeta
Golongan ini menentang atas dasar kemanusiaan. Adapun tokoh yang mempelopori penentangan ini adalah Baron Van Hovel.
2) Golongan liberal
Golongan liberal terdiri dari pengusaha dan pedagang, di antaranya:
  1. a) Douwes Dekker dengan nama samaran Multatuli yang menentang tanam paksa dengan mengarang buku berjudul Max Havelaar.
  2. b) Frans Van de Pute dengan mengarang buku berjudul Suiker Constracten (Kontrak Kerja).
  3. Penghapusan pelaksanaan tanam paksa secara bertahap
Di Sumatra Barat ,sistem tanam paksa dimulai sejak tahun1847, ketika penduduk yang telah lama menanam kopi secara bebas dipaksa untuk menanam kopi untuk diserahkan kepada pemerintah kolonial. Begitu juga di Jawa, pelaksanaan sistem tanam paksa ini dilakukan melalui jaringan birokrasi lokal. Berkat adanya kecaman dari berbagai pihak, akhirnya pemerintah Belanda menghapus tanam paksa secara bertahap:
1) Tahun 1860 tanam paksa lada dihapus.
2) Tahun 1865 tanam paksa nila dan teh dihapus.
3) Tahun 1870 tanam paksa semua jenis tanaman, dihapus kecuali kopi di Priangan. Selain di Pulau Jawa, kebijaksanaan yang hampir sama juga dilaksanakan di tempat lain seperti Sumatra Barat, Minahasa, Lampung, dan Palembang. Kopi merupakan tanaman utama di dua tempat pertama. Adapun lada merupakan tanaman utama di dua wilayah yang kedua. Di Minahasa, kebijakan yang sama kemudian juga berlaku pada tanaman kelapa.
Sumber:
Sri Sudarmi . 2008. Galeri pengetahuan sosial terpadu2: SMP/MTs Kelas VIII/, Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional
Herlan Firmansyah .2009. Ilmu Pengetahuan Sosial 2 : untuk Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah Kelas VIII /Semester 1 dan 2 /. Jakarta : Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional,

FAKTOR KEGAGALAN BANGSA INDONESIA MENGUSIR PENJAJAH

penangkapan-pangeran-diponegoro-karya-raden-salehKedatangan bangsa barat ke Indonesia pada awalnya disambut baik. Akan tetapi lama kelamaan karena sifat serakah yang dilakukan bangsa barat tersebut, membuat bangsa Indonesia melakukan berbagai perlawanan. Bangsa barat menuntut adanya monopoli perdagangan ditolak oleh penguasa lokal, dalam hal ini adalah para raja. Bangsa Barat yang awalnya hanya ingin berdagang kemudian berhasrat untuk menguasai, maka muncullah kolonialisme barat di Indonesia.
Berbagai macam perlawanan yang dilakukan bangsa Indonesia muncul dalam menentang kolonialisme barat, antara lain Kerajaan Aceh melawan Portugis, Kerajaan Demak mengusir Portugis, Kerajaan Ternate mengusir Portugis, Perlawanan Banten terhadap VOC, Perlawanan Kerajaan Mataram terhadap VOC di Batavia, Perlawanan Kerajaan Makassar melawan VOC, Perang Diponegoro, Perang Paderi, Perang Puputan di Bali, Perlawanan Patimura, Perlawanan Pangeran Antasari, Perlawanan Si Singamangaraja dalam mengusir pemerintah kolonial Belanda.
Sebelum abad ke-20 corak perjuangan bangsa Indonesia antara lain:
  1. Bentuk gerakannya belum diorganisasi, maka menggantungkan kepada pemimpin.
  2. Sifatnya kedaerahan, maka bersifat insidental sementara.
  3. Mengandalkan kekuatan senjata dan kekuatan gaib.
  4. Belum ada tujuan yang jelas.
  5. Gerakannya mudah bubar atau berakhir jika pemimpin mereka tertangkap.
Berbagai perlawanan tersebut pada akhirnya mengalami kegagalan.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan rakyat Indonesia gagal mengusir penjajah, di antaranya:
  1. kurangnya persatuan di antara rakyat dan kerajaan-kerajaan di Indonesia;
  2. mentalitas sebagian orang Indonesia yang terpedaya oleh jabatan dan kekayaanyang ditawarkan oleh penjajah;
  3. kualitas SDM Indonesia cenderung kalah dengan SDM penjajah;
  4. kuatnya rasa cinta kedaerahan rakyat Indonesia sehingga menjadi peluang bagi penjajah untuk mengadu domba;
  5. terdapatnya persaingan di antara kerajaan-kerajaan di Indonesia untuk menjadi kerajaan yang paling maju
  6. sarana dan prasarana militer serta alat komunikasi antar daerah di Indonesia yang sangat minim.
Sumber :
Herlan Firmansyah .2009. Ilmu Pengetahuan Sosial 2 : untuk Sekolah Menengah Pertama /Madrasah Tsanawiyah Kelas VIII /Semester 1 dan 2 /. Jakarta : Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional,

PENGARUH SISTEM EKONOMI LIBERAL DI INDONESIA

Pelaksanaan Sistem Ekonomi Liberal di Indonesia mulai dilakukan Belanda sekitar tahun 1870, bebarengan dengan dikeluarkannya Undang-Undang Agraria 1870. Hal ini berkaitan dengan kemenangan kaum liberal di parlemen Belanda. Kaum liberal menginginkan berkurangnya campur tangan pemerintah dalam bidang ekonomi, serta member kebebasan bagi pengusaha swasta untuk lebih berperan. Oleh karena itu maka, Sitem Tanam Paksa yang diterapkan sebelumnya, secara bertahap diganti dengan Sistem Ekonomi Liberal atau juga sering disebut sebagai Politik Pintu Terbuka.
Pengaruh yang muncul pasca dilaksanakannya sistem Ekonomi Liberal oleh Belanda di Indonesia:
  1. Meningkatnya jumlah pengusaha asing yang ingin menanamkan modalnya di Hindia Belanda
  2. Banyak bermunculan perkebunan-perkebunan swasta asing di Hindia Belanda seperti perkebunan tembakau di Deli,Jember, Kedu, Klaten dan Kediri
  3. Berkembangnya kegiatan pertambangan di Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Pulau Bangka
  4. Terjadinya pengerahan tenaga kerja secara besar-besaran untuk memenuhi pekerja di perkebunan
  5. Terjadinya eksploitasi tanah secara besar-besaran.
  6. Kekayaan pulau Jawa tidak lagi mengalir ke kas pemerintah, tetapi sebaliknya menguntungkan kelas menengah Belanda yang dewasa itu menguasai arus politik di Negeri Belanda
  7. Zaman liberal mengakibatkan ekonomi uang masuk dalam kehidupan masyarakat Indonesia terutama Jawa
Politik pintu terbuka ternyata tidak membawa kemakmuran bagi rakyat Indonesia. Van Deventer mengecam pemerintah Belanda yang tidak memisahkan keuangan negeri induk dan negeri jajahan. Kaum liberal dianggap hanya   mementingkan prinsip kebebasan untuk mencari keuntungan  tanpa memerhatikan   nasib rakyat. Contohnya perkebunan tebu yang mengeksploitasi tenaga rakyat secara besar-besaran.
Dampak politik pintu terbuka bagi Belanda sangat  besar. Negeri Belanda mencapai kemakmuran yang sangat pesat. Sementara rakyat di negeri jajahan sangat miskin dan menderita. Oleh karena itu, van Deventer mengajukan politik yang diperjuangkan untuk kesejahteraan rakyat. Politik ini dikenal dengan politik etis atau politik balas budi karena Belanda dianggap mempunyai hutang budi kepada rakyat Indonesia yang dianggap telah membantu meningkatkan kemakmuran negeri Belanda.

KEDATANGAN BANGSA BARAT DI INDONESIA

Kedatangan bangsa barat di Indonesia berkaitan erat dengan penjelajahan samudera yang dilakukan oleh bangsa Eropa pada awal abad ke-15. Kontak antara bangsa Eropa dengan bangsa timur dalam perdagangan sudah berlangsung lama akan tetapi tidak melalui jalur laut melainkan jalur darat yang dikenal dengan istilah jalur sutera. Para pedagang Eropa selain mendapatkan barang-barang dari daerah asalnya, sebagian besar para pedagang mendapatkan barang yang diinginkan di pusat perdagangan saat itu, yakni Konstantinopel. Salah satu barang yang menjadi primadona saat itu adalah rempah-rempah yang digunakan oleh bangsa Eropa sebagai penghangat badan

KEHIDUPAN EKONOMI PADA MASA VOC

Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC) dibentuk pada tanggal 20 Maret 1602. Tujuan didirikan VOC antara lain untuk memonopoli perdagangan. Ada beberapa tindakan VOC yang sangat merugikan rakyat. Untuk bisa memonopoli perdagangan rempah-rempah, VOC tidak jarang menggunakan ancaman kekerasan terhadap penduduk dan orang-orang non-Belanda yang berdagang di sekitar kawasan tersebut. Penduduk di Kepulauan Banda yang terus menjual biji palanya kepada pedagang Inggris dibunuh oleh pasukan Belanda. Bahkan, penduduk di kepulauan tersebut dipindah ke luar pulau dan diganti dengan para pembantu atau budak-budak yang dipekerjakan di perkebunan.
VOC sebagai sebuah kongsi dagang memiliki hak istimewa yang sering disebut sebagai hak octroi. Adanya hak istimewa ini membuat VOC semakin kuat, diibaratkan negara dalam negara. Hak Octroi VOC antara lain:
  1. Melakukan monopoli perdagangan di wilayah antara Tanjung Harapan sampai dengan Selat Magelhaens, termasuk Kepulauan Nusantara,
  2. Membentuk angkatan perang sendiri,
  3. Melakukan peperangan,
  4. Mengadakan perjanjian dengan raja-raja setempat,
  5. Mencetak dan mengeluarkan mata uang sendiri,
  6. Mengangkat pegawai sendiri, dan
  7. Memerintah di negeri jajahan.
Dalam perkembangannya, para pedagang VOC terus memperkuat kedudukan dengan membuat benteng pertahanan, intervensi ke dalam kerajaan, dan memperbudak rakyat. Bahkan, mereka semakin memperluas pengaruh dan kekuasaan hingga ke berbagai pulau di Nusantara. Pada tahun 1605, armada VOC bersekutu dengan Hitu untuk menyerang kubu pertahanan Portugis di Ambon. Imbalannya adalah VOC berhak sebagai pembeli tunggal rempah-rempah Hitu. Perlahan-lahan, VOC berhasil membuka kantor dagang di Sulawesi Selatan dan menyerang Banten, selanjutnya menjadikan Jayakarta sebagai pelabuhan dengan nama Batavia. Berbagai kebijakan yang dilakukan oleh VOC antara lain:
  1. Monopoli perdagangan rempah-rempah
  2. Verplichte Laverantie yaitu penyerahan wajib hasil bumi dengan harga yang telah ditetapkan oleh VOC,dan melarang rakyat menjual hasil buminya selain kepada VOC.
  3. Contingenten yaitu kewajiban bagi rakyat untuk membayar pajak berupa hasil bumi.
  4. Peraturan tentang ketentuan areal dan jumlah tanaman rempah-rempah yang boleh ditanam.
  5. Hak Ekstirpasi yaitu hak VOC untuk menebang tanaman rempah-rempah agar tidak terjadi over produksi yg dapat menyebabkan harga rempah-rempah merosot.
  6. Pelayaran Hongi yaitu pelayaran dengan perahu kora-kora (perahu perang) untuk mengawasi pelaksanaan monopoli perdagangan VOC dan menindak pelanggarnya.
Pada masa J.P Coen, Cara-cara VOC untuk meningkatkan eksploitasi kekayaan alam dilakukan antara lain dengan:
  1. Merebut pasaran produksi pertanian, biasanya dengan memaksakan monopoli, seperti monopoli rempah-rempah di Maluku.
  2. Tidak ikut aktif secara langsung dalam kegiatan produksi hasil pertanian. Cara memproduksi hasil pertanian dibiarkan berada di tangan kaum Pribumi, tetapi yang penting VOC dapat memperoleh hasil-hasil pertanian itu dengan mudah, sekalipun harus dengan paksaan.
  3. VOC sementara cukup menduduki tempat-tempat yang strategis.
  4. VOC melakukan campur tangan terhadap kerajaan-kerajaan di Nusantara, terutama menyangkut usaha pengumpulan hasil bumi dan pelaksanaan monopoli. Dalam kaitan ini VOC memiliki daya tawar yang kuat, sehingga dapat menentukan harga.
  5. Lembaga-lembaga pemerintahan tradisional/kerajaan masih tetap dipertahankan dengan harapan bisa dipengaruhi/dapat diperalat, kalau tidak mau baru diperangi.
Dengan langkah itu, VOC berhasil memonopoli perdagangan rempah- rempah di Indonesia Timur dan perdagangan lada di Indonesia bagian barat.

Tolong buatlah pertanyaan tentang voc dan jawabanya?5 pertanyaan


PERLUASAN KEKUASAAN VOC

Awal mula intervensi VOC di dalam kehidupan politik di Nusantara dimulai pada tahun 1601. Pieter Both berhasil membujuk Pangeran Jakarta untuk membangun benteng pertahanan di Batavia. Kontrak antara VOC dengan Pangeran Jakarta itu antara lain VOC diizinkan membuat bangunan dari batu bata dan kayu di daerah  pecinan. Sebagai gantinya, VOC membayar 1.200  real kepada Pangeran Jakarta. Dari situlah, VOC mengoperasikan seluruh kepentingan politik ekonominya ke seluruh daerah di Nusantara.
Ada beberapa faktor yang mempermudah VOC membangun imperiumnya di Nusantara yaitu:
  1. Menguasai jaringan perdagangan lada, cengkih, dan rempah-rempah,
  2. Memiliki hak istimewa atau Hak Octroi
  3. VOC juga berhasil memanfaatkan pergolakan yang terjadi di dalam kerajaan-kerajaan itu.
  4. Menerapkan strategi devide et impera
  5. berbagai tipu daya juga dilaksanakan demi mendapatkan kekuasaan dan keuntungan sebesar-besarnya.
  6. VOC adalah organisasi dagang yang tertib dan para pengurusnya bekerja keras sehingga maju dengan pesat,
Pieter Both pertama kali mendirikan pos perdagangan di Banten pada tahun 1610. Pada tahun itu juga Pieter Both meninggalkan Banten dan berhasil memasuki Jayakarta. Penguasa Jayakarta waktu itu, Pangeran Wijayakrama sangat terbuka dalam hal perdagangan. Jayakarta dengan pelabuhannya Sunda Kelapa menjadi kota dagang yang sangat ramai. Kemudian pada tahun 1611 Pieter Both berhasil mengadakan perjanjian dengan penguasa Jayakarta, guna pembelian sebidang tanah seluas 50×50 vadem (satu  vadem sama dengan 182 cm) yang berlokasi di sebelah timur Muara Ciliwung. Tanah inilah yang menjadi cikal bakal hunian dan daerah kekuasaan VOC di tanah Jawa dan menjadi cikal bakal Kota Batavia. Pada tahun 1618 Sultan Banten yang dibantu tentara Inggris di bawah Laksamana Thomas Dale berhasil mengusir VOC dari Jayakarta. Orang-orang VOC kemudian menyingkir ke Maluku.
VOC kemudian memperkuat diri di Maluku dengan pusatnya adalah Ambon. Untuk memperkuat diri, VOC kemudian membangun benteng pertahanan contohnya Benteng Doorstede dibangun di Saparua, Benteng Nasau di Banda, Benteng Victoria di Ambon.
Untuk memperkokoh kedudukannya di Indonesia bagian barat dan memperluas pengaruhnya di Sumatera, VOC berhasil menguasai Malaka setelah mengalahkan saingannya, Portugis pada tahun 1641. Berikutnya VOC berusaha meluaskan pengaruhnya ke Aceh. Kerajaan Makassar di bawah Sultan Hasanuddin yang tersohor di Indonesia bagian timur juga berhasil dikalahkan setelah terjadi Perjanjian Bongaya tahun 1667. Dari Makasar VOC juga berhasil memaksakan kontrak dan monopoli perdagangan dengan Raja Sulaiman dari Kalimantan Selatan. Sementara jauh sebelum itu yakni tahun 1605 VOC sudah berhasil mengusir Portugis dari Ambon. VOC menjadi berjaya setelah berhasil melakukan monopoli perdagangan rempah-rempah di Kepulauan Maluku. Untuk mengendalikan pelaksanaan monopoli di kawasan ini dilaksanakan Pelayaran Hongi.
Pada masa J.P Coen, VOC kemudian memusatkan pemerintahan di Jayakarta dikarenakan letaknya yang strategis di jalur perdagangan dunia. VOC berhasil merebut kota Jayakarta dan merubahnya dengan nama Batavia, sesuai dengan leluhur orang Belanda, suku Bataaf. VOC di tanah Jawa mendapatkan tentangan dari Kerajaan Mataram Islam yang dipimpin oleh Sultan Agung. Pasukan Mataram dikirim untuk menyerang Batavia, akan tetapi mengalami kegagalan. Setelah wafatnya Sultan Agung, VOC menancapkan pengaruhnya dalam Kerajaan Mataram Islam. Hingga pada akhirnya mendapatkan berbagai wilayah sekaligus membagi Mataram menjadi dua kerajaan kecil. Pembagian Mataram berdasarkan Perjanjian Gianti. Selain itu, di Jawa, VOC juga mendapatkan tentangan dari Kerajaan Banten. Akan tetapi dengan politik devide et impera, Kerajaan Banten berhasil ditaklukan oleh VOC dengan adanya Perjanjian Banten.
Dalam rangka   memperluas pengaruh dan kekuasaannya itu, ternyata perhatian VOC juga sampai ke Irian/Papua yang dikenal sebagai wilayah yang masih tertutup dengan hutan belantara yang begitu luas. Penduduknya juga masih bersahaja dan primitif. Orang Belanda yang pertama kali sampai ke Irian adalah Willem Janz. Bersama armandanya rombongan Willem Janz menaiki Kapal Duyke dan berhasil memasuki tanah Irian pada tahun 1606. Willem Janz ingin mencari kebun tanaman rempah-rempah.
Tahun 1616-1617 Le Maire dan William Schouten mengadakan survei di daerah pantai timur laut Irian dan menemukan Kepulauan Admiralty bahkan sampai ke New Ireland. Dengan penemuan ini maka nama William diabadikan sebagai nama kepulauan, Kepulauan Schouten. Pada waktu orang-orang Belanda sangat memerlukan bantuan budak, maka banyak diambil dari orang-orang Irian. Pengaruh VOC di Irian semakin kuat. Bahkan pada tahun 1667, Pulau-pulau yang termasuk wilayah Irian yang semula berada di bawah kekuasaan Kerajaan Tidore sudah berpindah tangan menjadi daerah kekuasaan VOC. Dengan demikian daerah pengaruh dan kekuasaan VOC sudah meluas di seluruh Nusantara